Aku Dalam Tulisanku
Mendukung Klub Sepakbola, Haruskah Mengumpat?

Sebuah peristiwa unik tadi saya jumpai ketika sedang berjalan kaki di sekitaran jalan raya Jatinangor. Suara dentuman sepeda motor, klakson motor, dipadukan dengan teriakan “khas” para oknum pendukung klub sepakbola Persib Bandung. Saya rasa mungkin itu hanya sepersekian kecil kelompok pendukung yang ingin mengekspresikan kebanggaannya atas klub tercintanya. Hanya saja timbul pertanyaan, apakah berekspresi sebagai bentuk rasa bangga dan cinta akan sebuah klub harus berbau negatif?

Kenapa saya bisa mengatakan berbau negatif, karena terdapat 2 poin besar yang tampak dari peristiwa tersebut. Pertama adalah teriakan “khas” yang saya sebutkan sebelumnya. Apakah teriakan khas tersebut? Mungkin sebagian pembaca tulisan ini bisa menebak hal tersebut. Yaitu, sorakan yang bernada kasar (maaf) seperti tahi dan anjing. Teriakan itu ditujukan pada rival abadi, yaitu Persija Jakarta. Saya sebagai pencinta sepakbola merasa miris bahwa hingga sekarang oknum pendukung sepakbola di Indonesia masih kurang dewasa. Hal ini berani saya lontarkan karena sering kali kita saksikan di layar tivi atau bagi Anda yang datang langsung ke stadion mendengarkan kata-kata yang kasar terhadap lawan atau terhadap klub rival walaupun yang dihadapi bukan klub tersebut.

Masing-masing klub memang membawa payung kedaerahan dan nilai-nilai lokal. Itu adalah hal yang wajar. Sebagai pendukung Anda berhak membela mati-matian klub yang Anda cintai. Tapi, haruskan dengan (maaf) mentahi-tahikan atau menganjing-anjingkan lawan? Ataukan (maaf) tahi dan anjing sudah tidak lagi menjadi kata yang kasar bagi orang-orang Indonesia? 

Padahal kalau dilihat secara lebih luas, toh kita sama-sama Indonesia. Sama-sama garuda di dadaku! Klub-klub yang berlaga juga adalah klub-klub di liga Indonesia. Pastinya juga menyanyikan Indonesia Raya kapanpun lagu itu dinyanyikan di event-event internasional.

Kedua, adalah konvoi tersebut terdapat pengendara yang tidak mengenakan helm dan terdapat pula satu motor yang dinaiki oleh 3 orang. Tanpa basa-basi ini adalah pelanggaran lalu lintas. Bagaimana bila terjadi kecelakaan saat konvoi? Mengingat mereka tanpa pengaman Anda pasti tahu jawabannya. Ditambah lagi mereka melanggar aturan lalu lintas. Haruskan mendukung dan menunjukkan rasa cinta kepada klub dan sepakbola dengan cara seperti itu?

Efek yang terasa adalah seringnya terjadi gesekan-gesekan akibat dari saling adu mulut dan kemudian berujung pada kerusuhan. Hal ini yang sering ditakutkan oleh para masyarakat umum. Hanya gara-gara hal sepele para pendukung bisa saling lempar batu di luar lapangan atau melempar botol di dalam lapangan. Tidak jarang kerusuhan justru merugikan masyarakat umum. Contohnya ketika terjadi pelemparan  kereta yang dinaiki oleh Bonek, suporter Persebaya. Dan masih banyak lagi kisah pilu sepakbola Indonesia.

Sebagai pencinta sepakbola saya rasa perlu upaya bersama untuk meluruskan budaya-budaya negatif tersebut. Salah satunya yang paling utama adalah budaya menjelekkan klub atau pendukung lain dengan bahasa yang kotor. Kita bersaudara kawan dan kita sama Indonesia. Sportifitas dan saling menghargai masing-masing pendukung di klub masing-masing akan menjadi modal berharga bagi sepakbola Indonesia.

270512

The same old town, the same old night, the same old songs, the same old vehicle, the same old me, but it’s all seems different without you!
Adityo D. Sudagung 120512
Kalah dan menang adalah anugerah yang harus disyukuri. Hari ini menang di satu sisi, tapi juga kalah di sisi lain. Selalu ada hikmah di balik itu semua.
Adityo D. Sudagung 120512
Kembali membaca halaman-halaman sebelumnya, untuk kemudian menjadi inspirasi penulis melanjutkan cerita hingga halaman-halaman seterusnya yang lebih baik.
Adityo D. Sudagung 120512
Ketika menjalani hidup tanpa gairah dan passion, hidup akan menjadi hampa. Begitupun ketika melakukan hubungan dengan sesama manusia. Ketika mencapai titik hampa, maka yang dapat dilakukan adalah dua hal. Pertama, mengisi kehampaan dengan semangat baru atau mencari tempat di mana Anda menemukan semangat baru.
Adityo D. Sudagung 151111
Inspirasi itu tersedia banyak layaknya sumber daya alam di Indonesia. Tapi masalahnya adalah bagaimana Anda mengelolanya? Itulah yang menjadi masalah saat ini.
Adityo D. Sudagung 151111
Masih Untuknya

Berlari bersama kenangan

Berlari bersama bayangmu

Mengejar kembali kepingan yang terpisah

Meskipun itu sudah hampir mustahil

Hati itu tidak bisa bohong kawan

Hati ini masih tercuri olehnya

Meski raga bukan lagi miliknya

Masihkah ia mengingatku?

Ataukah aku sudah terkubur jauh dalam ingatannya

070512

Pep Guardiola’s Farewell at Camp Nou. Watch this and you will know that’s why we call Barcelona “Mes Que en Club” or “More Than Just A Club”.

Kenangan Sang Penyair

Saat kenangan memutar kembali masa-masa itu

Saat senyumannya kembali datangi mimpi

Lamunan akan dirinya menerpa si penyair

Ia sedang bergulat dengan perasaannya

Di satu titik ia merindunya

Namun itu mungkin hanya rindu yang sepihak

Rindu yang hanya bisa terbalas dengan memejamkan mata

Menanti datangnya di dalam mimpi

Menghampiri dengan senyumnya yang menyejukkan

Menyentuh hangat wajah sang penyair dengan tangannya

Keheningan mimpi itu pecah saat penyair membuka mata

Menjadikan mimpi itu sebagai salah satu penopang langkahnya

040512

Sebuah Lagu berjudul Natural dari Grup Band D’Masiv. Berisi kesederhanaan seorang lelaki untuk mencintai kekasihnya. Ia tidak memerlukan wanita yang terlihat cantik atau terlihat kaya, yang ia butuhkan hanyalah wanita itu senatural mungkin. Pertemuan mereka bukan karena saling mencari, tapi karena cinta yang mempertemukan mereka.